Sejarah Baru, Penemuan Batu Giok Terbesar di Dunia

Penemuan Giok 20 ton di Aceh
Penemuan Giok 20 ton di Aceh
Garuda News – Penemuan batu giok seberat 20 ton di Nagan Raya, Aceh, membuat gempar warga sekitar disusul dunia. Giok seberat 20 ton ini ditemukan oleh Usman (45), warga Desa Pante Ara, Kecamatan Beutong, Nagan Raya saat mencari batu bersama sejumlah warga lain pada 9 Februari lalu. Untuk mencari tahu jenis batu mulia ini, Pusat Sumber Daya Geologi (PSDG) Bandung mendatangkan beberapa penelitinya. Untuk memastikan kemurnian giok (jade).

Batu giok yang sempat menjadi sengketa antar dua kelompok warga. Pemerintah setempat akhirnya memecah dan mengamankan batu alam giok ini untuk mencegah timbulnya kejadian yang tidak diinginkan Sementara ini diduga, batu giok tersebut berjenis nephrite. Ada kemungkinan juga bongkahan batu itu tak seluruhnya giok, namun bercampur dengan batuan induk. Giok Aceh dibedakan menjadi dua jenis berdasarkan kandungan unsur kimia dan tingkat kekerasan batuannya, yaitu giok nephrite dan jadeit.


Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben) Nagan Raya mulai memecah giok seberat 20 ton sejak Sabtu (21/2) lalu. Walau sudah dibelah, lokasi penemuan giok 20 ton di hutan lindung Kreung Isep, Kecamatan Beutong, Nagan Raya, hingga Selasa (24/2) kemarin masih dipasang garis polisi. Karena sebelumnya warga tak mengambil. Namun diam-diam warga dari desa tetangga mengetahui batu tersebut dan berupaya mengambilnya walaupun terlah ada moratorium pengambilan batu alam. yang menyebabkan ketegangan antara dua kelompok warga tersebut. Untung, polisi cepat mengamankan lokasi. Sengketa itu tak berujung kontak fisik.

hari berikutnya, setelah ada pembicaraan antara berbagai pihak, giok ini dibelah untuk diamankan ke pusat pemerintah di ibukota Nagan Raya. Sedikit demi sedikit, giok yang perkirakan bernilai miliran rupiah tersebut terkikis. Hingga Selasa kemarin baru sekitar 5 ton giok yang berhasil dibelah. Pecahan batu alam tersebut selanjutnya dibawa oleh warga ke posko utama yang terletak tidak lebih dari 3 km dari lokasi penemuan. Sampai sekarang (26/2), proses pembelahan masih berlangsung.